Naluri anak-anak yang selalu ingin mencoba juga menerpa
diriku, yah…karena aku juga anak-anak yang ingin seperti anak-anak seusiaku.
Betapa riangnya teman-temanku setiap pagi dan sore mengayuh sepeda, tertawa
riang, kejar-kejaran dengan sepeda mini mereka di gang Jalan di depan rumah
yang tidak rata jalannya. Aku pun ikut hanyut dan bahagia dengan senyum dan
tawa mereka. Hemm…tapi aku termasuk anak yang tidak beruntung, bapakku tak
mengijinkanku naik sepeda, entah alasannya apa. Aku dan kakak-kakak perempuanku
tidak boleh naik sepeda.
Keinginanku sangat kuat, aku pun sembunyi-sembunyi belajar
naik sepeda, aku pinjam tanpa bilang pemiliknya hehe..jamaah bapak untuk
rutinan hari kamis…hahai…bapak nggak tahu pastinya, beliau lagi menjadi imam
dan ngisi ngaji pada jamaah. Hem…sulit sekali sepeda kukendalikan berulang kali
aku jatuh dan jatuh. Aku naikkan salah satu kakiku di pedal sebelah kiri, lalu
aku angkat kakiku sebelah kanan dan aku taruh di pedal sebelah kanan, oleng dan
aku jatuh. Eh..aku ganti strategi aku naiki aja sepedanya dengan metode
jedek-jedek….nggak bisa mutar 360 derajat, pedalnya hanya ke atas ke bawah, tak
apalah..yang penting sepeda bisa melaju.
Tak terasa sudah lama juga, saking asyiknya belajar sepeda
tiba-tiba terdengar teriakan “nur…..mudun,
wedok-wedok petingkrangan” dari kejauhan aku lihat bapakku dengan kepalan
tangannya. Oh tidak…mati aku, bisa-bisa dirujak aku sama bapakku. Aku langsung
turun, dan kukembalikan sepeda itu ke tempat parkiran, tanpa terima kasih dan
mohon maaf sama yang punya, aku lari dan masuk kamar. Takut bapakku murka….
Sejak saat itu, sampai aku segede ini, jaman tahun 2017
tidak bisa naik sepeda. Kebutuhan aku harus bergerak cepat tanpa harus
merepotkan suami, saudara dan teman. Aku sudah berulang kali belajar naik
motor, entah kenapa aku tidak bisa.