Minggu, 26 Maret 2017

DILARANG BELAJAR SEPEDA

Naluri anak-anak yang selalu ingin mencoba juga menerpa diriku, yah…karena aku juga anak-anak yang ingin seperti anak-anak seusiaku. Betapa riangnya teman-temanku setiap pagi dan sore mengayuh sepeda, tertawa riang, kejar-kejaran dengan sepeda mini mereka di gang Jalan di depan rumah yang tidak rata jalannya. Aku pun ikut hanyut dan bahagia dengan senyum dan tawa mereka. Hemm…tapi aku termasuk anak yang tidak beruntung, bapakku tak mengijinkanku naik sepeda, entah alasannya apa. Aku dan kakak-kakak perempuanku tidak boleh naik sepeda.
Keinginanku sangat kuat, aku pun sembunyi-sembunyi belajar naik sepeda, aku pinjam tanpa bilang pemiliknya hehe..jamaah bapak untuk rutinan hari kamis…hahai…bapak nggak tahu pastinya, beliau lagi menjadi imam dan ngisi ngaji pada jamaah. Hem…sulit sekali sepeda kukendalikan berulang kali aku jatuh dan jatuh. Aku naikkan salah satu kakiku di pedal sebelah kiri, lalu aku angkat kakiku sebelah kanan dan aku taruh di pedal sebelah kanan, oleng dan aku jatuh. Eh..aku ganti strategi aku naiki aja sepedanya dengan metode jedek-jedek….nggak bisa mutar 360 derajat, pedalnya hanya ke atas ke bawah, tak apalah..yang penting sepeda bisa melaju.
Tak terasa sudah lama juga, saking asyiknya belajar sepeda tiba-tiba terdengar teriakan “nur…..mudun, wedok-wedok petingkrangan” dari kejauhan aku lihat bapakku dengan kepalan tangannya. Oh tidak…mati aku, bisa-bisa dirujak aku sama bapakku. Aku langsung turun, dan kukembalikan sepeda itu ke tempat parkiran, tanpa terima kasih dan mohon maaf sama yang punya, aku lari dan masuk kamar. Takut bapakku murka….

Sejak saat itu, sampai aku segede ini, jaman tahun 2017 tidak bisa naik sepeda. Kebutuhan aku harus bergerak cepat tanpa harus merepotkan suami, saudara dan teman. Aku sudah berulang kali belajar naik motor, entah kenapa aku tidak bisa. 

Sabtu, 25 Maret 2017

TERAKHIR PAKEK BAJU MINI

Saat itu aku masih usia TK B, sebagai anak-anak pada zaman dahulu kala, masih banyak anak-anak seusiaku yang telanjang bulat. Kakak-kakak SD pun masih biasa kalau main nggak pakek baju. Tiada yang menarik bagi mereka yang nggak pakek baju, masih sangat biasa. Buktinya pada zaman saya dulu, tidak kenal yang namanya cinta atau pacaran, paling-paling ya..anak-anak SMA yang baru kenal apa itu pacaran. Kehidupan kami pada saat itu sangat bebas dan aman, tidak ada yang nyowel-nyowel atau sruit-sruit kalau lihat anak SD atau seusiaku pakek baju mini.
Eh..kalau jaman sekarang, mana berani anak-anak usia SD nggak pakek baju bagi cewek…bisa-bisa jadi korban pelecehan. Anak-anak zaman kemajuan ini bagai diujung tanduk, orang tua harus super duper mengawasi si buah hati agar tidak menjadi korban kejahatan manusia dewasa. Pakek baju yang minim bagi anak usia balita aja sudah menimbulkan sahwat bagi orang-orang yang mengalami pedofilia. Si anak yang yang tidak berdosa dan tidak mengerti akan tindak kejahatan sangat rawan menjadi korban. Jadi orang tua jangan sok-sokan pengen anaknya seperti artis yang kelihatan gaul dan trendi, jika tidak ingin anak-anaknya menjadi korban kejahatan manusia yang sudah rusak otaknya.
Masih ingat aku, saat aku masih duduk di usia TK, aku pakek baju hijau dengan lengan di atas bahu, bagian dadanya berenda brukat tanpa furing dan ukuran roknya di atas lutut. Lucu saat aku bercermin di depan kaca, layaknya anak-anak jaman dulu, aku merasa bahagia dan aku anggap biasa saja, toh teman-temanku pakek kaos singlet aja tidak apa-apa, bahkan ada yang Cuma pakek celana pendek tanpa baju. Aku berjalan melewati ruang tamu “Nur…mau kemana?” Tanya bapakku, “mau main” jawabku singkat tanpa beban. “sini bapak liat, bajunya kok seperti ini? Anak perempuan harus menjaga aurat ya?auratnya kelihatan, nggak pantes..gih..mintak ganti ibu yang lebih pantas dan rapat” kata bapakku melarang.

Mulai saat ittu aku tidak lagi memakai baju mini atau baju yukensikel, atau apalah sebutannya. Nasehat bapakku kala itu begitu melekat sampai-sampai saat aku di bangku ibtidaiyah selefel dengan SD, teman-teman masih memakai sragam rok pendek dan baju lengan pendek, saya sendiri nggak mau memakai sragam pendek-pendek. Aku pakai aja sragam bekas mbakku yang sudah duduk di bangku SMA, meksi panjang dan baju lengan panjang.